Senin, 02 Mei 2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mata pelajaran Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang bisa dikatakan sulit,hal tersebut terbukti dari banyak siswa yang menjadikan kimia sebagai mata pelajaran yang sangat menakutkan. Tetapi tidak sedikit pula siswa yang menggemari mata pelajaran tersebut. Apakah yang sebenarnya menyebabkan banyak siswa tidak berminat untuk belajar kimia?
Makalah ini ditulis bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyabab rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran kimia. Setelah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi,diharapkan adanya perbaikan dari semua aspek penyebab rendahnya minat belajar siswa untuk belajar fisika dan menjadi berminat untuk belajar mata pelajaran Kimia tersebut.
Untuk itu,pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran kimia . Khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas.
Dengan adanya makalah diharapkan dapat memperbaiki pola berfikir siswa tentang mata pelajaran kimia sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap  mata pelajaran kimia.


1.2 Rumusan Masalah
1.  Bagaimana pengertian kinerja siswa ?
2.  Bagaimana faktor-faktor kinerja siswa dalam belajar kimia ?
3.  Bagaimana cara penilaian kinerja siswa ?
4. bagaimana  solusi mengatasi faktor – faktor kinerja siswa dalam belajar kimia ?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa untuk mengetahui pengertian kinerja siswa
2.Mahasiswa unutk memahami faktor-faktor kinerja siswa dalam belajar kimia
3.Mahasiswa untuk memahami cara penilaian kinerja siswa
4. mahasiswa untuk mengetahui solusi mengatasi faktor – faktor kinerja siswa dalam belajar kimia
























BAB II
Pembahasan
2.1 Kinerja Siswa
Kinerja siswa memiliki definisi yang luas, sebagaimana yang diungkapkan Ellis dkk. (1998) bahwa kinerja merupakan reaksi aktif siswa yang diamati dari respon baik secara langsung atau tidak langsung melalui produk permanen. Kinerja merupakan tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang dapat mengungkapkanpemahaman tentangkonsep danketerampilan melaksanakan tugas. Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwakinerja dalam kegiatan praktikum yaitu seperangkat hasil pelaksanaan tugas yang mencerminkan keterampilan berpraktikum, namun tidak sebatas keterampilan menggunakan alat saja tetapi juga harus memahami langkah berpraktikum serta bagaimana menggunakan alat dan bahan tertentu. Menurut Basuki (2011) aspek kinerja yang dapat dilihat pada kegiatan praktikum yaitu bentuk penguasaan keterampilan dasar bereksperimen yang terdiri dari subaspek: menyiapkan alat dan bahan, menggunakan alat dan bahan, melakukan pengamatan atau observasi, pengumpulan atau pencatatan data danmenyimpulkan.
Kinerja siswa dalam praktikum dapat dinilai dengan penilaian kinerja (performance assessment) karena penilaian ini cocok diterapkan sebagai penilaian di laboratorium yang dapat menilai proses dan hasil tetapi dibutuhkan kriteria yang jelas untuk mengambarkan kinerja yang dinilai. (Kulm, dkk. dan O'Neil (dalam Slater, 1998)).Penilaian kinerjamemenuhi standar penilaian yang tercantum pada Permendikbud Nomor 66 tahun 2011,yang menegaskan bahwa penilaian harus mengukur semua kompetensi siswa berdasarkan proses dan hasil. Selain itu, penilaian kinerja juga memilikirelevansi yang kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 karena mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain (Sulipan, 2013).

2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Siswa
   Mengacu pada masalah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, Sri Rumini (1993 : 19) menyatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi belajar siswa yaitu:
a.  Faktor dari luar siswa, meliputi :
1)   Faktor lingkungan, antara lain lingkungan  alami dan lingkungan sosial budaya.
2)   Faktor instrumen, antara lain kurikulum, program, sarana dan fasilitas,  guru, bahan pelajaran dan metode mengajar.
a.  Faktor dari dalam diri siswa, meliputi :
1)   Faktor fsilogis, antara lain kondisi fisiologi umum dan kondisi panca indera.
2)   Faktor psikologis, antara lain faktor psikis yang bersifat intelektual berupa taraf kecerdasan,kemampuan belajar,cara belajar dan
faktor psikis yang bersifat nonintelektual berupa motivasi, sikap, persepsi, bakat dan intelegensi.
Menurut Sanjaya (2008) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran adalah:
a.       Faktor Guru
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi  pembelajaran. Tanpa guru, bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan. Layaknya seorang prajurit di medan pertempuran. Keberhasilan penerapan strategi berperang untuk menghancurkan musuh akan sangat bergantung kepada kualitas prajurit itu sendiri. Demikian juga dengan guru. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik dan taktik pembelajaran. Diyakini, setiap guru akan memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, gaya dan bahkan pandangan yang berbeda dalam mengajar. Guru yang menganggap mengajar hanya serbatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda denagan guru yang menganggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik. Masing-masing perbedaan tersebut dapat mempengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.
Guru dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Peran guru, apalagi untuk siswa pada usia pendidikan dasar, tidak mungkin dapat digantikan oleh perangkat lain, seperti televisi, radio, komputer dan lain sebagainya. Sebab, siswa adalah organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa. Dalam proses pembelajran guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi bagi siswa yang di ajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manajer of learning). Dengan demikian, efektifitas proses pembelajaran terletak di pundak guru. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan olek kualitas atau kemampuan guru.                                                                                                                                                                                                                                                                                   
b.      Faktor Siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat di pengaruhi oleh perkembangan anak yang yang tidak sama itu, disamping karakteristik lain yang melekat pada diri anak.
Seperti halnya guru, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa yang menurut Dunkin di sebut pupil formative experiences serta faktor sifat yang dimiliki siswa (pupil properties). Aspek latar belakang siswa meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran, tempat tinggal siswa, tingkat sosial ekonomi siswa, dari keluarga yang bagaimana  siswa berasal dan lain-lain. Sedangkan dilihat dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap.tidak dapt di sangkal bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda yang dapat dikelompokkan pada saiswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa yang termasuk berkemampuan tinggi biasanya ditunjukkan oleh motivasi yang tinggi dalam belajar, perhatian, dan keseriusan dalam mengikuti pelajaran dan lain-lain. Sebaliknya, siswa yang tergolong pada kemampuan rendah ditandai dengan kurangnya  motivasi belajar, tidak adanya keseriusan dalam mengikuti pelajaran, termasuk mengerjakan tugas dan lain sebaginya. Perbedaan-perbedaan semacam itu menuntut perlakuan yang berbeda pula baik dalam penempatan atau pengelompokan siswa maupun dalam perlakuan guru dalam menyesuaikan gaya belajar. Demikian juga halnya dengan tingkat pengetahuan siswa. Siswa yang memilki pengetahuan yang memadai tentang penggunaan standar, misalnya, akan mempengaruhi proses pembelajaran mereka dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki tentang hal itu.
Sikap dan penampilan siswa di dalam kelas juga merupakan aspek lain yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Ada kalanya ditemukan siswa yang sangat aktif (hyperkinetik) dan ada pula siswa yang pendiam, tidak sedikit juga ditemukan siswa yang memilki motivasi yang rendah dalam belajar. Semua itu akan mempengaruhi prose pembelajaran di dalam kelas. Sebab, bagaimanapun faktor siswa dan guru merupakan faktor yang sangat menentukan dalam interaksi pembelajaran.  
c.       Fakto Sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah, dan lai sebagainya; sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya. Kelengkapan sarana dan prasarana akan menuntun guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, dengan memiliki sarana dan prasarana merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelengkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Mengajar dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu sebagai proses penyampaian materi pelajaran dan sebagai proses pengaturan lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Jikia mengajar dipandang sebagai proses penyampaian materi, maka dibutuhkan sarana pembelajran berupa alat dan bahan yang dapat menyalurkan pesan secara efektif dan efesien ; sedangkan manakala mengajar dipandang sebagai proses mengatur lingkungan  agar siswa dapat belajar, maka dibutuhkan sarana yang berkaitan dengan berbagai sumber belajar yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Kedua, kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar. Setiap siswa pada dasarnya memiliki gaya belajar berbeda. Siswa yang bertipe auditif akan lebih mudah belajar melalui pendengaran, sedang tipe siswa visual akan lebih mudah belajar melalui penglihatan. Kelengkapan sarana dan prasarana akan memuudahkan siswa menentukan pilihan dalam belajar.         
d.      Faktor Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua factor yang mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu factor organisasi kelas dan factor iklim social-psikologi. Faktor organisasi kelas yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok bejajar yang besar dalam satu kelas berkecendrungan :
a.       Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit
b.      Kelompok belajar akan kurang mampu memamfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya, dalam penggunaan waktu diskusi. Jumlah siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang banyak pula, sehingga sumbangan pikiran akan sulit didapatkan dari setiap siswa.
c.       Kepuasan belajar setiap siswa akan cenderung menurun. Hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian guru akan semakin terpecah.
d.      Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling bertentangan.
e.       Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
f.       Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.
Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi prose pembelajaran adalah faktor iklim sosial-psikologis. Maksudnya, keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal dan eksternal.iklim sosial-psikologis secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah. iklim sosial-psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.


2.3 cara penilaian kinerja siswa
peneliti mengembangkan instrumen penilaian kinerja siswa yang valid dan reliabel pada praktikum titrasi asam basa. Sebagaimana yang diungkapkan Shavelson, dkk. (1991) bahwa pelaksanaan penelitian penilaian kinerja untuk ke depan merupakan penelitian pengembangan instrumen penilaian kinerja dan teknologi. Penelitian akanmenghasilkan produk instrumen penilaian kinerja berupa task (tugas) dan rubrik yang valid dan reliabel sebagaimana yang diungkapkanOberlander (dalam Parkes, 2010).
Selain dari rubrik, penilaian kinerja terdiri atas komponen lainnya yaitu task (tugas-tugas). Task merupakan perangkat tugas yang  menuntut siswa untuk menunjukkan suatu performance (kinerja) tertentu.
  1. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran sains, penilaian kinerja lebih menekankan pada proses apabila dibandingkan dengan hasil. Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat dilakukan terhadap produk. Melalui produk yang dihasilkan dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan-tahapan penyelesaian. Hal ini menyebabkan penilaian kinerja memiliki keunggulan untuk pembelajaran sains jika dibandingkan dengan tes tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Penilaian kinerja memiliki beberapa kekuatan yang apabila dibandingkan dengan penilaian tradisional, yaitu:
  1. Penilaian kinerja dapat mengukur kemampuan yang tidak dapat diukur menggunakan alat penilaian lainnya.
  2. Penggunaan penilaian kinerja sesuai dengan teori belajar modern.
  3. Penggunaan penilaian kinerja memungkinkan hasil dalam pengajaran yang lebih baik.
  4. Dengan penilaian kinerja dapat mencapai pembelajaran bermakna dan membantu memotivasi siswa.
  5. Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran.
  6. Penggunaan penilaian kinerja memperluas pendekatan untuk penilaian.
Selain memiliki kekuatan, penilaian kinerja juga memiliki kelemahan, antara lain:
  1. Sukar untuk melakukan penyekoran penilaian kinerja dengan cara yang reliabel.
  2. Penilaian kinerja menyediakan sampel yang terbatas dari domain isi, dan sukar untuk membuat generalisasi tentang keterampilan dan pengetahuan proses siswa.
  3. Penilaian kinerja cukup memakan waktu dan sangat kompleks.
  4. Pada kenyataannya ada hal-hal yang dapat membatasi penggunaan penilaian kinerja, seperti persyaratan dan material peralatan yang dibutuhkan.
2.Penyusunan Perangkat Penilaian
Perangkat penilaian kinerja dapat dikembangkan dengan melakukan uji coba dalam pembelajaran. guru dapat menguji dan mengembangkan task-task (tugas) dan rubrik penilaian kinerj agar cocok dengan kondisi di kelasnya serta sesuai dengan kemampuan siswa. Hasil uji coba dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan perangkat penilaian kinerja agar menjadi lebih feasible (dapat dikerjakan), lengkap dan aman dilakukan.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja antara lain: observasi, interviu, portofolio, penilaian essay, ujian praktik, paper, penilaian proyek, kuisioner, daftar cek (check list), penilaian oleh teman (peer rating), penilaian diskusi, dan penilaian jurnal kerja ilmiah siswa. Langkah-langkah yang perlu ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja antara lain:
  1. Menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
  2. Memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya).
  3. Memilih tingkat realism yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata).
  4. Memilih metode observasi, pencatatan, dan penskoran.
  5. Menguji coba task dan rubrik berdasarkan hasil uji coba untuk digunakan dalam pembelajaran berikutnya.
Pada praktiknya bentuk penilaian kinerja yang paling sering dilakukan adalah dengan menggunakan daftar cek (ya – tidak) dan skala penilaian.
Daftar Cek
Pada penilaian kinerja menggunakan daftar cek (ya – tidak) peserta didik mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh guru. Jika tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, atau dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai (kemampuan) tengah.
Skala Penilaian
Penilaian kinerja menggunakan skala rentang memungkinkan guru untuk memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai ini dengan kategori nilai lebih dari dua. Skala rentang tersebut misalnya, sangat baik – baik – cukup – kurang. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu penilai agar faktor subyektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian dengan skala penilaian yang baik pada dasarnya masih harus dilengkapi dengan rubrik.
2.4 solusi
            Harus ditingkatkan lagi kinerja siswa dakam pelajaran kimia baik dari sendiri maupun dar i luar. Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja harus dapat dikurangi.








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah yang kami buat, maka kami dapatt membuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Kinerja merupakan tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang dapat mengungkapkanpemahaman tentangkonsep danketerampilan melaksanakan tugas. Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwakinerja dalam kegiatan praktikum yaitu seperangkat hasil pelaksanaan tugas yang mencerminkan keterampilan berpraktikum, namun tidak sebatas keterampilan menggunakan alat saja tetapi juga harus memahami langkah berpraktikum serta bagaimana menggunakan alat dan bahan tertentu
2.Menurut Sanjaya (2008) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran adalah:
a.       Faktor Guru.                                                                                                                                                                                                                                                                                   
b.      Faktor Siswa
c.       Faktor Sarana dan Prasarana
d.      Faktor Lingkungan
3.Metode-metode yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja antara lain: observasi, interviu, portofolio, penilaian essay, ujian praktik, paper, penilaian proyek, kuisioner, daftar cek (check list), penilaian oleh teman (peer rating), penilaian diskusi, dan penilaian jurnal kerja ilmiah siswa. Langkah-langkah yang perlu ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja antara lain:
  1. Menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
  2. Memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya).
  3. Memilih tingkat realism yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata).
  4. Memilih metode observasi, pencatatan, dan penskoran.
  5. Menguji coba task dan rubrik berdasarkan hasil uji coba untuk digunakan dalam pembelajaran berikutnya.


Daftar pustaka

Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Elis, K. A.1989. Teaching and Learning Elementary Social Studies ( Sixth Edition) Needham Heights, MA : Allyn 2 Bacon.
Rumini, Sri dan Siti Sundari. 2004. Perkembangan Anak dan Remaja. PT Rineka Cipta, Jakarta.

Shavelson, R. J. dan Baxter. G. P.dkk. (1991).Performance assessment in science. Santa Barbara: University of California.

Wina Sanjaya. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media














Lampiran
   LEMBAR ANGKET PERSEPSI TERHADAP MATERI KIMIA


Petunjuk  Khusus:
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dengan memberi tanda silang (X) pada angka disamping yang menurut  anda anggap benar


Keterangan  Pilihan: 
1 =  Sangat  tidak setuju,
2 =  Tidak setuju,
3 =  Agak setuju,
4 =  Setuju,
5 =  Sangat setuju

NAMA            :

KELAS           :


NO
PERNYATAAN
JAWABAN
1
Ilmu kimia sangat menarik karena berkaian dengan hal-hal nyata yang berhubungan dengan alam.
1
2
3
4
5
2
Ilmu kimia bisa membuat orang berpikir kreaif dan logis.
1
2
3
4
5
3
Sedikit dari sekian orang yang saya ketahui yang berhasil dalam bidang ilmu kimia.
1
2
3
4
5
4
Ilmu kimia merupakan ilmu yang tidak menarik karena hanya mempelajari hal-hal yang abstrak.
1
2
3
4
5
5
Eksperiman dalam pembelajaran ilmu kimia bisa melatih untuk mengeahui pelajaran ilmu kimia lebih lanjut.
1
2
3
4
5
6
Pembelajaran ilmu kimia sangat membosankan, karena hanya berhubungan dengan angka, rumus, dan teori.
1
2
3
4
5
7
Mempelajari ilmu kimia memerlukan banyak konsentrasi.
1
2
3
4
5
8
Dengan membaca buku para ilmuan kimia semakin membuat semangat belajar kimia.
1
2
3
4
5
9
Eksperimen dalam bidang ilmu kimia melatih berpikir ilmiah, bijaksana dalam mengambil keputusan.
1
2
3
4
5
10
Belajar ilmu kimia banyak menyita waktu.
1
2
3
4
5
11
Bahan-bahan yang berkaitan dengan ilmu kimia merupakan bahan yang berbahaya danmenakutkan bagi manusia.
1
2
3
4
5
12
Pelajaran ilmu kimia sangat menarik karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
1
2
3
4
5
13
Mempelajari ilmu kimia juga disediakan adanya prakek agar memperkuat teori dalam ilmu kimia.
1
2
3
4
5
14
Keberhasilan dalam eksperimen membuka rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu kimia.
1
2
3
4
5
15
Pelajaran kimia merupakan pelajaran yang tidak begitu besar manfaatnya bagi kehidupan masa depan.
1
2
3
4
5
16
Belajar kimia juga bisa mengenal tentang lambang,unsur-unsur, bahan-bahan kimia dan alat-alat laboratorium yang akan digunakan.
1
2
3
4
5
17
Belajar kimia juga dapat melakukan percobaan-percobaan kimia dengan memakai alat yang sederhana.
1
2
3
4
5
18
Ilmu kimia selalu menghubungkan teori-teori kimia dalam kehidupan sehari-hari.
1
2
3
4
5
19
Belajar kimia bisa mendorong untuk menghasilkan karya ilmiah yang cukup banyak, seperti buku-buku, hasil penelitian dan sebagainya,
1
2
3
4
5
20
Ilmu kimia juga bisa memberikan contoh dengan mudah dan menarik dalam kehidupan sehari-hari.
1
2
3
4
5




3 komentar:

  1. Faktor yang mempengaruhi kinerja siswa salah satunya diatas dijelaskan adalah faktor instrumen yaitu kurikulum, kenapa kurikulum? Bagaimana kurikulum dapat mempengaruhi kinerja siswa dalam belajar kimia?

    BalasHapus
  2. dalam angket yang telah saudari Jannah sebarkan, faktor apa yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan kinerja siswa pada saat pembelajaran ?

    BalasHapus
  3. jika terdapat masalah dimana kenerja siswa dan kektifan siswa dikelas saat belajar kimia juga kurang bahkan dilingkungan juga kurang aktif dan suka menyendiri dan tidak suka dalam lingkungan yang ramai. bagaimana solusi yang bisa kita terapkan jika anda diposisikan sebagai guru kimia terhadap anak tersebut ? Mohon djelaskan

    Terimakasih

    BalasHapus