BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Mata pelajaran Kimia merupakan
salah satu mata pelajaran yang bisa dikatakan sulit,hal tersebut terbukti dari
banyak siswa yang menjadikan kimia sebagai
mata pelajaran yang sangat menakutkan. Tetapi tidak sedikit pula siswa yang
menggemari mata pelajaran tersebut. Apakah yang sebenarnya menyebabkan banyak
siswa tidak berminat untuk belajar kimia?
Makalah ini ditulis bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyabab
rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran kimia. Setelah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut
terjadi,diharapkan adanya perbaikan dari semua aspek penyebab rendahnya minat
belajar siswa untuk belajar fisika dan menjadi berminat untuk belajar mata
pelajaran Kimia tersebut.
Untuk itu,pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan beberapa faktor
yang menyebabkan rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran kimia . Khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas.
Dengan adanya makalah diharapkan dapat memperbaiki pola berfikir siswa
tentang mata pelajaran kimia sehingga
dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap
mata pelajaran kimia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pengertian kinerja siswa ?
2. Bagaimana
faktor-faktor kinerja siswa dalam belajar kimia ?
3. Bagaimana
cara penilaian kinerja siswa ?
4. bagaimana
solusi mengatasi faktor – faktor kinerja siswa dalam belajar kimia ?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa untuk mengetahui pengertian kinerja siswa
2.Mahasiswa unutk memahami faktor-faktor kinerja
siswa dalam belajar kimia
3.Mahasiswa untuk memahami cara penilaian kinerja
siswa
4. mahasiswa untuk mengetahui solusi mengatasi
faktor – faktor kinerja siswa dalam belajar kimia
BAB
II
Pembahasan
2.1
Kinerja Siswa
Kinerja siswa memiliki
definisi yang luas, sebagaimana yang diungkapkan Ellis dkk. (1998) bahwa
kinerja merupakan reaksi aktif siswa yang diamati dari respon baik secara
langsung atau tidak langsung melalui produk permanen. Kinerja merupakan tingkat
keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan yang dapat mengungkapkanpemahaman tentangkonsep
danketerampilan melaksanakan tugas. Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat
dikatakan bahwakinerja dalam kegiatan praktikum yaitu seperangkat hasil
pelaksanaan tugas yang mencerminkan keterampilan berpraktikum, namun tidak
sebatas keterampilan menggunakan alat saja tetapi juga harus memahami langkah
berpraktikum serta bagaimana menggunakan alat dan bahan tertentu. Menurut
Basuki (2011) aspek kinerja yang dapat dilihat pada kegiatan praktikum yaitu
bentuk penguasaan keterampilan dasar bereksperimen yang terdiri dari subaspek:
menyiapkan alat dan bahan, menggunakan alat dan bahan, melakukan pengamatan
atau observasi, pengumpulan atau pencatatan data danmenyimpulkan.
Kinerja siswa dalam
praktikum dapat dinilai dengan penilaian kinerja (performance assessment)
karena penilaian ini cocok diterapkan sebagai penilaian di laboratorium yang
dapat menilai proses dan hasil tetapi dibutuhkan kriteria yang
jelas untuk mengambarkan kinerja yang dinilai. (Kulm, dkk. dan O'Neil (dalam
Slater, 1998)).Penilaian kinerjamemenuhi standar penilaian yang tercantum pada
Permendikbud Nomor 66 tahun 2011,yang menegaskan bahwa penilaian harus mengukur
semua kompetensi siswa berdasarkan proses dan hasil. Selain itu, penilaian
kinerja juga memilikirelevansi yang kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam
pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 karena mampu menggambarkan
peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi,
menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain (Sulipan, 2013).
2.2 Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kinerja Siswa
Mengacu
pada masalah mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, Sri Rumini (1993
: 19) menyatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi belajar siswa yaitu:
a. Faktor
dari luar siswa, meliputi :
1) Faktor
lingkungan, antara lain lingkungan alami dan lingkungan sosial
budaya.
2) Faktor
instrumen, antara lain kurikulum, program, sarana dan
fasilitas, guru, bahan pelajaran dan metode mengajar.
a. Faktor dari dalam diri
siswa, meliputi :
1) Faktor
fsilogis, antara lain kondisi fisiologi umum dan kondisi panca indera.
2) Faktor
psikologis, antara lain faktor psikis yang bersifat intelektual berupa taraf
kecerdasan,kemampuan belajar,cara belajar dan
faktor psikis yang bersifat
nonintelektual berupa motivasi, sikap, persepsi, bakat dan intelegensi.
Menurut Sanjaya (2008) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran adalah:
a.
Faktor Guru
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu
strategi pembelajaran. Tanpa guru,
bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi, maka strategi itu tidak mungkin
bisa diaplikasikan. Layaknya seorang prajurit di medan pertempuran. Keberhasilan
penerapan strategi berperang untuk menghancurkan musuh akan sangat bergantung
kepada kualitas prajurit itu sendiri. Demikian juga dengan guru. Keberhasilan
implementasi suatu strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru
dalam menggunakan metode, teknik dan taktik pembelajaran. Diyakini, setiap guru
akan memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, gaya dan bahkan pandangan
yang berbeda dalam mengajar. Guru yang menganggap mengajar hanya serbatas
menyampaikan materi pelajaran akan berbeda denagan guru yang menganggap
mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik.
Masing-masing perbedaan tersebut dapat mempengaruhi baik dalam penyusunan
strategi atau implementasi pembelajaran.
Guru dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Peran
guru, apalagi untuk siswa pada usia pendidikan dasar, tidak mungkin dapat
digantikan oleh perangkat lain, seperti televisi, radio, komputer dan lain
sebagainya. Sebab, siswa adalah organisme yang sedang berkembang yang memerlukan
bimbingan dan bantuan orang dewasa. Dalam proses pembelajran guru tidak hanya
berperan sebagai model atau teladan bagi bagi siswa yang di ajarnya, tetapi
juga sebagai pengelola pembelajaran (manajer
of learning). Dengan demikian, efektifitas proses pembelajaran terletak di
pundak guru. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat
ditentukan olek kualitas atau kemampuan guru.
b. Faktor Siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap
perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek
kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak
pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat di pengaruhi
oleh perkembangan anak yang yang tidak sama itu, disamping karakteristik lain
yang melekat pada diri anak.
Seperti halnya guru, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses
pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa yang
menurut Dunkin di sebut pupil formative
experiences serta faktor sifat yang dimiliki siswa (pupil properties). Aspek latar belakang siswa meliputi jenis
kelamin siswa, tempat kelahiran, tempat tinggal siswa, tingkat sosial ekonomi
siswa, dari keluarga yang bagaimana
siswa berasal dan lain-lain. Sedangkan dilihat dari sifat yang dimiliki
siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap.tidak dapt di sangkal
bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda yang dapat dikelompokkan
pada saiswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa yang termasuk
berkemampuan tinggi biasanya ditunjukkan oleh motivasi yang tinggi dalam
belajar, perhatian, dan keseriusan dalam mengikuti pelajaran dan lain-lain.
Sebaliknya, siswa yang tergolong pada kemampuan rendah ditandai dengan
kurangnya motivasi belajar, tidak adanya
keseriusan dalam mengikuti pelajaran, termasuk mengerjakan tugas dan lain
sebaginya. Perbedaan-perbedaan semacam itu menuntut perlakuan yang berbeda pula
baik dalam penempatan atau pengelompokan siswa maupun dalam perlakuan guru dalam
menyesuaikan gaya belajar. Demikian juga halnya dengan tingkat pengetahuan
siswa. Siswa yang memilki pengetahuan yang memadai tentang penggunaan standar,
misalnya, akan mempengaruhi proses pembelajaran mereka dibandingkan dengan
siswa yang tidak memiliki tentang hal itu.
Sikap dan penampilan siswa di dalam kelas juga merupakan aspek lain yang
bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Ada kalanya ditemukan siswa yang sangat
aktif (hyperkinetik) dan ada pula
siswa yang pendiam, tidak sedikit juga ditemukan siswa yang memilki motivasi
yang rendah dalam belajar. Semua itu akan mempengaruhi prose pembelajaran di
dalam kelas. Sebab, bagaimanapun faktor siswa dan guru merupakan faktor yang
sangat menentukan dalam interaksi pembelajaran.
c.
Fakto Sarana
dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap
kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajran, alat-alat
pelajaran, perlengkapan sekolah, dan lai sebagainya; sedangkan prasarana adalah
segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses
pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil,
dan lain sebagainya. Kelengkapan sarana dan prasarana akan menuntun guru dalam
menyelenggarakan proses pembelajaran, dengan memiliki sarana dan prasarana
merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana
dan prasarana. Pertama, kelengkapan
sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar.
Mengajar dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu sebagai proses penyampaian
materi pelajaran dan sebagai proses pengaturan lingkungan yang dapat merangsang
siswa untuk belajar. Jikia mengajar dipandang sebagai proses penyampaian materi,
maka dibutuhkan sarana pembelajran berupa alat dan bahan yang dapat menyalurkan
pesan secara efektif dan efesien ; sedangkan manakala mengajar dipandang
sebagai proses mengatur lingkungan agar
siswa dapat belajar, maka dibutuhkan sarana yang berkaitan dengan berbagai
sumber belajar yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Kedua, kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai
pilihan pada siswa untuk belajar. Setiap siswa pada dasarnya memiliki gaya
belajar berbeda. Siswa yang bertipe auditif akan lebih mudah belajar melalui
pendengaran, sedang tipe siswa visual akan lebih mudah belajar melalui
penglihatan. Kelengkapan sarana dan prasarana akan memuudahkan siswa menentukan
pilihan dalam belajar.
d.
Faktor
Lingkungan
Dilihat dari dimensi
lingkungan ada dua factor yang mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu factor
organisasi kelas dan factor iklim social-psikologi. Faktor organisasi kelas
yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting
yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar
akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok bejajar yang
besar dalam satu kelas berkecendrungan :
a. Sumber daya kelompok akan bertambah
luas sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin
sempit
b. Kelompok belajar akan kurang mampu
memamfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya, dalam
penggunaan waktu diskusi. Jumlah siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang
banyak pula, sehingga sumbangan pikiran akan sulit didapatkan dari setiap
siswa.
c. Kepuasan belajar setiap siswa akan
cenderung menurun. Hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan
mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain
perhatian guru akan semakin terpecah.
d. Perbedaan individu antara anggota akan
semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang
terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling
bertentangan.
e. Anggota kelompok yang terlalu banyak
berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk
sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
f. Anggota kelompok yang terlalu banyak
akan cenderung semakin banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam
setiap kegiatan kelompok.
Faktor lain dari dimensi
lingkungan yang dapat mempengaruhi prose pembelajaran adalah faktor iklim
sosial-psikologis. Maksudnya, keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat
dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal dan
eksternal.iklim sosial-psikologis secara internal adalah hubungan antara orang
yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa
dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara
guru dengan pimpinan sekolah. iklim sosial-psikologis eksternal adalah
keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan
sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga
masyarakat, dan lain sebagainya.
2.3 cara
penilaian kinerja siswa
peneliti
mengembangkan instrumen penilaian kinerja siswa yang valid dan reliabel pada
praktikum titrasi asam basa. Sebagaimana yang diungkapkan Shavelson, dkk.
(1991) bahwa pelaksanaan penelitian penilaian kinerja untuk ke depan merupakan
penelitian pengembangan instrumen penilaian kinerja dan teknologi. Penelitian
akanmenghasilkan produk instrumen penilaian kinerja berupa task (tugas)
dan rubrik yang valid dan reliabel sebagaimana yang diungkapkanOberlander
(dalam Parkes, 2010).
Selain dari rubrik, penilaian kinerja terdiri atas komponen lainnya yaitu
task (tugas-tugas). Task merupakan perangkat tugas yang menuntut siswa
untuk menunjukkan suatu performance (kinerja) tertentu.
- Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran. Pada
pembelajaran sains, penilaian kinerja lebih menekankan pada proses apabila
dibandingkan dengan hasil. Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik
karena dapat memantau siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses
secara langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa
memerlukan waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran
sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha
siswa dapat dilakukan terhadap produk. Melalui produk yang dihasilkan dapat
dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan-tahapan penyelesaian. Hal ini
menyebabkan penilaian kinerja memiliki keunggulan untuk pembelajaran sains jika
dibandingkan dengan tes tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil
belajar.
Penilaian kinerja memiliki beberapa kekuatan yang apabila dibandingkan
dengan penilaian tradisional, yaitu:
- Penilaian kinerja dapat mengukur kemampuan yang tidak dapat diukur menggunakan alat penilaian lainnya.
- Penggunaan penilaian kinerja sesuai dengan teori belajar modern.
- Penggunaan penilaian kinerja memungkinkan hasil dalam pengajaran yang lebih baik.
- Dengan penilaian kinerja dapat mencapai pembelajaran bermakna dan membantu memotivasi siswa.
- Penilaian kinerja dapat menilai proses dan produk pembelajaran.
- Penggunaan penilaian kinerja memperluas pendekatan untuk penilaian.
Selain memiliki kekuatan, penilaian kinerja juga memiliki kelemahan, antara
lain:
- Sukar untuk melakukan penyekoran penilaian kinerja dengan cara yang reliabel.
- Penilaian kinerja menyediakan sampel yang terbatas dari domain isi, dan sukar untuk membuat generalisasi tentang keterampilan dan pengetahuan proses siswa.
- Penilaian kinerja cukup memakan waktu dan sangat kompleks.
- Pada kenyataannya ada hal-hal yang dapat membatasi penggunaan penilaian kinerja, seperti persyaratan dan material peralatan yang dibutuhkan.
2.Penyusunan Perangkat Penilaian
Perangkat penilaian kinerja dapat dikembangkan dengan melakukan uji coba
dalam pembelajaran. guru dapat menguji dan mengembangkan task-task (tugas) dan
rubrik penilaian kinerj agar cocok dengan kondisi di kelasnya serta sesuai
dengan kemampuan siswa. Hasil uji coba dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan
perangkat penilaian kinerja agar menjadi lebih feasible (dapat
dikerjakan), lengkap dan aman dilakukan.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk penilaian kinerja antara lain:
observasi, interviu, portofolio, penilaian essay, ujian praktik, paper,
penilaian proyek, kuisioner, daftar cek (check list), penilaian oleh
teman (peer rating), penilaian diskusi, dan penilaian jurnal kerja
ilmiah siswa. Langkah-langkah yang perlu ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja
antara lain:
- Menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
- Memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya).
- Memilih tingkat realism yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata).
- Memilih metode observasi, pencatatan, dan penskoran.
- Menguji coba task dan rubrik berdasarkan hasil uji coba untuk digunakan dalam pembelajaran berikutnya.
Pada praktiknya bentuk penilaian kinerja yang paling sering dilakukan
adalah dengan menggunakan daftar cek (ya – tidak) dan skala penilaian.
Daftar Cek
Pada penilaian kinerja menggunakan daftar cek (ya – tidak) peserta didik
mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati
oleh guru. Jika tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan
cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya
benar-salah, atau dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak
terdapat nilai (kemampuan) tengah.
Skala Penilaian
Penilaian kinerja menggunakan skala rentang memungkinkan guru untuk memberi
nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai ini
dengan kategori nilai lebih dari dua. Skala rentang tersebut misalnya, sangat
baik – baik – cukup – kurang. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari
satu penilai agar faktor subyektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian
lebih akurat. Penilaian dengan skala penilaian yang baik pada dasarnya masih
harus dilengkapi dengan rubrik.
2.4 solusi
Harus ditingkatkan lagi
kinerja siswa dakam pelajaran kimia baik dari sendiri maupun dar i luar. Faktor
– faktor yang mempengaruhi kinerja harus dapat dikurangi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah yang kami buat, maka kami dapatt
membuat kesimpulan sebagai berikut:
1.
Kinerja merupakan tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang dapat mengungkapkanpemahaman
tentangkonsep danketerampilan melaksanakan tugas. Dari pengertian-pengertian
tersebut, dapat dikatakan bahwakinerja dalam kegiatan praktikum yaitu
seperangkat hasil pelaksanaan tugas yang mencerminkan keterampilan
berpraktikum, namun tidak sebatas keterampilan menggunakan alat saja tetapi
juga harus memahami langkah berpraktikum serta bagaimana menggunakan alat dan
bahan tertentu
2.Menurut
Sanjaya (2008) faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran adalah:
a.
Faktor
Guru.
b. Faktor Siswa
c.
Faktor
Sarana dan Prasarana
d.
Faktor
Lingkungan
3.Metode-metode yang dapat digunakan
untuk penilaian kinerja antara lain: observasi, interviu, portofolio, penilaian
essay, ujian praktik, paper, penilaian proyek, kuisioner, daftar cek (check
list), penilaian oleh teman (peer rating), penilaian diskusi, dan
penilaian jurnal kerja ilmiah siswa. Langkah-langkah yang perlu ditempuh ketika
menyusun penilaian kinerja antara lain:
- Menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa.
- Memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya).
- Memilih tingkat realism yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata).
- Memilih metode observasi, pencatatan, dan penskoran.
- Menguji coba task dan rubrik berdasarkan hasil uji coba untuk digunakan dalam pembelajaran berikutnya.
Daftar pustaka
Basuki, Sulistyo.
Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Elis, K. A.1989.
Teaching and Learning Elementary Social Studies ( Sixth Edition) Needham
Heights, MA : Allyn 2 Bacon.
Rumini, Sri dan Siti
Sundari. 2004. Perkembangan Anak dan Remaja. PT Rineka Cipta, Jakarta.
Shavelson, R. J. dan
Baxter. G. P.dkk. (1991).Performance assessment in science. Santa
Barbara: University of California.
Wina
Sanjaya. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta
: Kencana Prenada Media
Lampiran
LEMBAR ANGKET PERSEPSI TERHADAP MATERI KIMIA
Petunjuk Khusus:
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dengan memberi tanda silang
(X) pada angka disamping yang menurut anda anggap benar
Keterangan Pilihan:
1 = Sangat tidak setuju,
2 = Tidak setuju,
3 = Agak setuju,
4 = Setuju,
5 = Sangat setuju
NAMA :
KELAS :
|
NO
|
PERNYATAAN
|
JAWABAN
|
||||
|
1
|
Ilmu kimia sangat menarik karena
berkaian dengan hal-hal nyata yang berhubungan dengan alam.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
2
|
Ilmu kimia bisa membuat orang
berpikir kreaif dan logis.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
3
|
Sedikit dari sekian orang yang
saya ketahui yang berhasil dalam bidang ilmu kimia.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
4
|
Ilmu kimia merupakan ilmu yang
tidak menarik karena hanya mempelajari hal-hal yang abstrak.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
5
|
Eksperiman dalam pembelajaran ilmu
kimia bisa melatih untuk mengeahui pelajaran ilmu kimia lebih lanjut.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
6
|
Pembelajaran ilmu kimia sangat
membosankan, karena hanya berhubungan dengan angka, rumus, dan teori.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
7
|
Mempelajari ilmu kimia memerlukan
banyak konsentrasi.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
8
|
Dengan membaca buku para ilmuan
kimia semakin membuat semangat belajar kimia.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
9
|
Eksperimen dalam bidang ilmu kimia
melatih berpikir ilmiah, bijaksana dalam mengambil keputusan.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
10
|
Belajar ilmu kimia banyak menyita
waktu.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
11
|
Bahan-bahan yang berkaitan dengan
ilmu kimia merupakan bahan yang berbahaya danmenakutkan bagi manusia.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
12
|
Pelajaran ilmu kimia sangat
menarik karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
13
|
Mempelajari ilmu kimia juga
disediakan adanya prakek agar memperkuat teori dalam ilmu kimia.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
14
|
Keberhasilan dalam eksperimen
membuka rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu kimia.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
15
|
Pelajaran kimia merupakan
pelajaran yang tidak begitu besar manfaatnya bagi kehidupan masa depan.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
16
|
Belajar kimia juga bisa mengenal
tentang lambang,unsur-unsur, bahan-bahan kimia dan alat-alat laboratorium
yang akan digunakan.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
17
|
Belajar kimia juga dapat melakukan
percobaan-percobaan kimia dengan memakai alat yang sederhana.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
18
|
Ilmu kimia selalu menghubungkan
teori-teori kimia dalam kehidupan sehari-hari.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
19
|
Belajar kimia bisa mendorong untuk
menghasilkan karya ilmiah yang cukup banyak, seperti buku-buku, hasil
penelitian dan sebagainya,
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
20
|
Ilmu kimia juga bisa memberikan
contoh dengan mudah dan menarik dalam kehidupan sehari-hari.
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Faktor yang mempengaruhi kinerja siswa salah satunya diatas dijelaskan adalah faktor instrumen yaitu kurikulum, kenapa kurikulum? Bagaimana kurikulum dapat mempengaruhi kinerja siswa dalam belajar kimia?
BalasHapusdalam angket yang telah saudari Jannah sebarkan, faktor apa yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan kinerja siswa pada saat pembelajaran ?
BalasHapusjika terdapat masalah dimana kenerja siswa dan kektifan siswa dikelas saat belajar kimia juga kurang bahkan dilingkungan juga kurang aktif dan suka menyendiri dan tidak suka dalam lingkungan yang ramai. bagaimana solusi yang bisa kita terapkan jika anda diposisikan sebagai guru kimia terhadap anak tersebut ? Mohon djelaskan
BalasHapusTerimakasih