Kamis, 07 April 2016

MISCONSEPTION CHEMISTRY (DALAM PEMBELAJARAN KIMIA) 2013


Chemistry 2013
By : Siti nurjanah (A1C113020)                                 
Misconseption Chemistry
(IKATAN KIMIA)
Mata pelajaran kimia SMA/MA merupakan salah satu mata pelajaran kelompok Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Salah satu tujuan mata pelajaran kimia di SMA/MA adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep, prinsip, hukum, dan teori kimia serta saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
Konsep kimia adalah abstraksi fakta-fakta kimia sejenis yang saling berhubungan, yang berarti konsep kimia dibangun oleh sejumlah fakta kimia. Oleh karenanya konsep kimia selalu bersifat abstrak. Konsep-konsep dalam kimia saling berkaitan, sehingga pemahaman salah satu konsep berpengaruh terhadap konsep yang lain. Proses pembelajarannya menjadi rumit karena setiap konsep harus dikuasai dengan benar sebelum mempelajari konsep lainnya. Hal ini berarti pemahaman terhadap konsep dasar kimia sangat memegang peranan dalam pemahaman konsep-konsep kimia selanjutnya. Oleh karena itulah, seorang guru kimia yang memperkenalkan pertama kali suatu konsep dasar kimia diharapkan tidak salah dalam penyampaian, karena hal ini akan berakibat fatal ketika konsep tersebut digunakan sebagai prasyarat memahami konsep kimia yang lain.
Setiap peserta didik memiliki prakonsepsi yang dibawa sebagai pengeta-huan. Demikian juga setiap peserta didik dapat memiliki konsepsi yang berbeda-beda terhadap suatu konsep. Setiap peserta didik senantiasa aktif membangun struktur kognitifnya berdasarkan pemilihan informasi yang tersedia sesuai dengan keinginannya. Ketika mereka berusaha membangun struktur kognitif dengan memilih informasi yang ada, baik informasi dari guru, buku atau lingkungan, kemungkinan ada kesalahan dalam mengaitkan keduanya. Prakonsepsi dan konsepsi yang benar dapat menjadi salah ketika ia membangun struktur kognitif baru berdasarkan masukan informasi yang salah, atau sebaliknya. Semuanya itu dapat menjadi penyebab terjadinya miskonsepsi pada diri peserta didik.

Miskonsepsi merupakan suatu keadaan yang dapat dialami oleh setiap peserta didik, namun bukan berarti dibiarkan begitu saja terjadi. Oleh karena itu,hal ini tentu-nya memberikan kontribusi positif pada peningkatan kualitas pembelajaran kimia dalam meningkatkan hasil belajar kimia peserta didik. Peserta didik SMA merupakan calon-calon ilmuwan masa depan, sehingga pemahaman konsep yang benar akan berdampak pula pada pengembangan ilmu kimia yang lebih luas. Misalnya, guru sering membuat analogi bahwa konsep kesetimbangan mirip dengan konsep air dalam dua bejana yang berhubungan. Pada kasus ini, tinggi permukaan air dalam bejana masing-masing dianalogikan dengan konsentrasi reaktan dan produk. Alasan berikutnya adalah suatu konsep sangat sulit dipahami sehingga dapat menimbulkan interpretasi lain bagi siswa. Pada materi kimia ikatan kimia sering terjadi miskonsepsi pada saat proses belajar mengajar,dimana guru belum memahami materi dengan 100%  sehingga siswa didalam kelas kurang memahami apa itu ikatan kimia. Dan guru pun kurang menganalogikan materi dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil dari identifikasi terhadap materi ikatan kimia dapat diuraikan sebagai berikut:
v  Pengertian ikatan kimia,ikatan kimia merupakan ikatan yang terjadi antara atom-atom yang membentuk suatu molekul. Atom-atom  unsur yang berikatan berasal dari sejenis maupun tidak sejenis. Miskonsepsi yang terjadi siswa hanya dapat menghafal dari pengertian ikatan kimia tanpa bisa menganalogikan dengan kehidupan sehari-hari.
v  Kestabilan unsur,miskonsepsi untuk sub ini siswa hanya mengingat jika unsur stabil berarti unsur memiliki kulit terluarnya terisi penuh oleh elektron,tanpa bisa menganalogikan bagaimana sebenarnya elektron yang stabil pada ikatan kimia  dan pemahaman terhadap struktur lewis yang hanya melihat bentuknya.
v  Membedakan ketiga ikatan kimia yaitu ikatan kimia ion (ikatan yang terjadi akibat serah terima elektron sehingga adanya ion positif + dan ion negatif -),ikatan kovalen (ikatan yang terbentuk akibat adanya pemakaian bersama pasangan elektron),dan ikatan koordinasi. Miskonsepsi yang terjadi antara jenis-jenis ikatan ini adalah siswa hanya mengingat saja tanpa tahu bagaimana membedakannya dan memahami konsep dari jenis ikatan ini. Dan guru pun kurang dalam menganalogikan kedalam kehidupan sehari-hari,serta kurangnya memberikan motivasi siswa dalam belajar.

Konsep-konsep kimia yang diajarkan guru tidak selalu dapat diterima secara utuh oleh peserta didik seperti yang diharapkan. Setiap peserta didik mengonstruksi konsepnya sendiri-sendiri, sehingga perbedaan konstruksi konsep individu inilah yang menyebabkan tingkat pemahaman konsep mereka berbeda-beda pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi miskonsepsi pada pembelajaran kimia dapat disebabkan sebagai berikut :

1.      Miskonsepsi Bersumber dari Peserta Didik
  Filsafat konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan itu dikonstruksi oleh peserta didik sendiri ketika berhubungan dengan lingkungan, tantangan, dan bahan yang dipelajari (Paul Suparno, 1997: 33). Oleh karena peserta didik mengonstruksi sendiri pengetahuannya, maka sangat mungkin terjadi salah konstruksi yang disebabkan mereka belum memiliki bekal cukup yang berkaitan dengan konsep yang sedang dikonstruksi atau belum memiliki kerangka ilmiah yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengonstruksi pengetahuan yang benar.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan miskonsepsi yang berasal dari peserta didik antara lain (1) prakonsepsi atau konsep awal peserta didik; (2) pemikiran asosiatif peserta didik; (3) pemikiran humanistik; (4) penalaran (reasoning) yang tidak lengkap atau salah; (5) intuisi yang salah; (6) tahap perkembangan kognitif peserta didik; (7) kemampuan peserta didik; dan (8) minat belajar.

2. Miskonsepsi Bersumber dari Guru
            Komunikasi verbal yang terjadi ketika seorang guru menerapkan metode ceramah dalam proses pembelajaran, memiliki kelemahan bahwa peserta didik tidak dapat secara keseluruhan menangkap materi yang disampaikan guru. Hal ini karena komunikasi verbal memiliki banyak kelemahan, diantaranya persepsi guru dengan peserta didik yang berbeda karena masing-masing memiliki dunia dan bahasa yang berbeda, pengalaman dan pengetahuan yang berbeda pula (Carter, dkk, 1989: 224).
Hasil penelitian yang dilakukan Garrett & Jimenez (1994: 199) menunjukkan salah satu penyebab peserta didik sulit menangkap pelajaran, yaitu disebabkan bahasa yang digunakan guru dalam mengajar membingungkan, sehingga peserta didik kesulitan menghubungkan antar konsep yang diterimanya.
             
Penyebab khusus yang mungkin menjadikan peserta didik mengalami miskonsepsi yang bersumber dari guru menurut Paul Suparno (2005: 53) adalah:
a.      Guru tidak menguasai bahan/materi secara baik, utuh, dan benar (tidak memiliki kompetensi profesional dan pedagogik);
b.      Guru tidak berlatar belakang sarjana bidang ilmu yang diajarkan, misal sarjana pendidikan matematika tetapi mengajar kimia;
c.       Jarang melakukan aktivitas pembelajaran yang memberikan kesempatan peserta didik mengemukakan gagasan/ide, sehingga tidak dapat mendeteksi terjadinya miskonsepsi secara dini; dan
d.      Hubungan guru dengan peserta didik tidak terjalin baik, sehingga ketika peserta didik mengalami kesulitan dalam pemahaman suatu konsep tidak berani bertanya.

3. Miskonsepsi Bersumber dari Buku Teks Pelajaran
Buku teks pelajaran merupakan sumber belajar bagi peserta didik yang bersifat pasif, artinya peserta didik hanya berkomunikasi dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar dalam buku tersebut dan tidak dapat bertanya langsung jika ada kalimat yang kurang jelas dan tidak dipahami. Semua kalimat dalam buku dicoba dipahami sendiri oleh peserta didik, sehingga kadang-kadang pemaksaan pemahaman ini dapat berakibat terjadinya miskon-sepsi.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya miskonsepsi yang disebabkan dari buku teks pelajaran yang dibaca oleh peserta didik (Abraham, 1992: 110). Penelitian yang dilakukan Garnett & Treagust (1992: 1090) menunjukkan miskonsepsi peserta didik terhadap materi elektrokimia disebabkan oleh buku teks yang digunakan dalam belajar. Penelitian serupa dilakukan George (1989: 17) yang menyatakan sebagian besar miskonsepsi yang dimiliki peserta didik bersumber pada buku yang digunakan.
Ilustrasi gambar yang disertakan dalam buku teks pelajaran sangat memungkinkan munculnya miskonsepsi, karena gambar merupakan wujud konkrit yang mudah ditangkap dan dipahami peserta didik Oleh karena itu ilustrasi dari suatu konsep sangat penting diperhatikan guru agar ketika dijumpai ilustrasi gambar yang salah segera dapat diluruskan, sehingga miskonsepsipun dapat dihindarkan.
Menurut Paul Suparno (2005: 53), penyebab khusus terjadinya miskon-sepsi yang bersumber dari buku teks diantaranya:
a.      penjelasan yang keliru dalam buku tersebut;
b.      kesalahan penulisan yang tidak disertai ralat (dalam ilmu kimia kesalahan penulisan rumus sangat berakibat fatal);
c.       penggunaan bahasa yang terlalu tinggi untuk level peserta didik yang dituju;
d.      banyak peserta didik yang membaca buku teks sepotong-sepotong (tidak utuh) sehingga memberikan pemahaman yang kurang tepat/benar;
e.      pemberian ilustrasi yang diambil dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sesuai dengan makna konsep yang sesungguhnya; dan
f.        penggunaan gambar kartun yang sering mengandung miskonsepsi.

4. Miskonsepsi Bersumber dari Konteks
            Menurut Carter & Brikhouse (1989: 224), konteks materi pelajaran dapat dipahami secara berbeda oleh peserta didik dan guru. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pengalaman, pengetahuan, tujuan, keperluan, dan motivasi. Oleh karena itu untuk memahami kesulitan peserta didik, guru terlebih dahulu harus memahami bahwa persepsi yang dimiliki peserta didik sering tidak sama dengan persepsi guru, karena peserta didik memiliki dunia dan bahasa yang berbeda. Beberapa hal yang dapat menyebabkan miskonsepsi yang berasal dari konteks antara lain (1) pengalaman; (2) bahasa sehari-hari; (3) teman; dan (4) agama.

5. Miskonsepsi Bersumber dari Metode Mengajar
Secara khusus cara mengajar guru yang diwujudkan dalam bentuk metode pembela-jaran dapat menimbulkan miskonsepsi jika guru (1) hanya menggunakan metode ceramah dan menulis tanpa berusaha mencari umpan balik dikuasai atau belumnya materi yang disampaikan; (2) tidak menjelaskan penurunan rumus dari konsep awalnya, sehingga peserta didik hanya menghafal dan tidak adaptif terhadap penerapan rumus dalam perhitungan dengan berbagai situasi; (3) tidak menyampaikan terjadinya miskonsepsi yang dialami sebagian peserta didik, sehingga peserta didik yang tidak terdeteksipun kemungkinan akan mengalami miskonsepsi; (4) tidak memberikan simpulan akhir setelah menerapkan metode tanya jawab, diskusi, maupun resitasi (penugasan); (5) memberikan analogi yang salah pada saat ceramah, (6) tidak mengujicoba terlebih dahulu demonstrasi yang akan dilakukan; dan (7) tidak menjelaskan adanya penyimpangan gejala atau reaksi kimia. 

                         

4 komentar:

  1. Berdasarkan uraian diatas, dapat saya pahami bahwa miskonsepsi merupakan suatu masalah dalam pembelajaran kimia. Kita sebagai guru/calon guru harus dapat mengatasi atau setidaknya dapat mengurangi agar miskonsepsi siswa terhadap materi pelajaran khususnya ikatan kimia itu berkurang. Mungkin dengan cara Guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang konsep yang biasanya membuat siswa bingung dan siswa diminta menjawab sejara jujur. Guru mengajak siswa untuk berdiskusi tentang bahan tertentu yang biasanya mengandung miskonsepsi, dan guru membiarkan siswa berdiskusi dengan bebas. Selain itu juga metode belajar yang digunakan harus sesuai dengan materi itu sendiri.
    Itu menurut saya.

    BalasHapus
  2. Menurut saya miskonsepsi bisa bersumber dari peserta didik dan guru.Guru kimia sebagai pelaku utama harus mengintropeksi pengetahuan kimianya, membandingkan dengan beberapa sumber, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, guru harus mempersiapkan sajian penjelasan sebelum masuk ke kelas agar mengurangi miskonsepsi yang dialami siswa akibat pengalamannya yang minim akan ruang lingkup kimia.
    Kesalahan pada pengetahuan dasar ini akan berkelanjutan ketika peserta didik ingin mempelajari konsep yang lebih kompleks. Untuk meminimalisir miskonsepsi karena hal ini , penting untuk peserta didik menginterpretasikan pelajaran kimia dari berbagai sumber belajar yang dipelajarinya.Misalnya setelah peserta didik mendapatkan konsep tentang ikatan kimia ada baiknya siswa mencari tahu dari buku dan internet sehingga peserta didik dapat mengkonstruktivis konsep ikatan kimia dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.

    BalasHapus
  3. Dari penjelasan anda,metode belajar ceramah menjadi salah satu penyebab miskonsepsi.Nah seandainya kita sebagai guru dan kita ingin menggunakan metode ceramah ,bagaimana cara kita sebagai guru dapat mengatasi dan mencegah terjadinya miskonsepsi di dalam pembelajaran dengan cara kita yang menggunakan metode ceramah ?

    BalasHapus
  4. terima kasih untuk saudara ice atas pertanyaannya. Menurut saya metode ceramah dapat diatasi dengan cara seorang guru harus mampu bersifat inovatif terhadap pelajaran yang menyenangkan atau tidak membosannkan ,dimana guru itu harus mampu menguasai materi dengan baik agar mudah dipahami serta mengaitkan materi terhadap lingkungan. metode ceramah berpusat kepada guru,guru harus mampu memberikan informasi dengan baik serta memanfaatkan lingkungan agar tidak terjadi miskonsepsi dalam belajar. #skian terima kasih

    BalasHapus