Chemistry 2013
By : Siti nurjanah
(A1C113020)
Misconseption
Chemistry
(IKATAN
KIMIA)
Mata
pelajaran kimia SMA/MA merupakan salah satu mata pelajaran kelompok Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Salah satu tujuan mata pelajaran kimia di SMA/MA adalah agar peserta didik
memiliki kemampuan memahami konsep, prinsip, hukum, dan teori kimia serta
saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam
kehidupan sehari-hari dan teknologi.
Konsep kimia adalah abstraksi fakta-fakta kimia sejenis
yang saling berhubungan, yang berarti konsep kimia dibangun oleh sejumlah fakta
kimia. Oleh karenanya konsep kimia selalu bersifat abstrak. Konsep-konsep dalam
kimia saling berkaitan, sehingga pemahaman salah satu konsep berpengaruh
terhadap konsep yang lain. Proses pembelajarannya menjadi rumit karena setiap
konsep harus dikuasai dengan benar sebelum mempelajari konsep lainnya. Hal ini
berarti pemahaman terhadap konsep dasar kimia sangat memegang peranan dalam pemahaman
konsep-konsep kimia selanjutnya. Oleh karena itulah, seorang guru kimia yang
memperkenalkan pertama kali suatu konsep dasar kimia diharapkan tidak salah
dalam penyampaian, karena hal ini akan berakibat fatal ketika konsep tersebut
digunakan sebagai prasyarat memahami konsep kimia yang lain.
Setiap peserta didik
memiliki prakonsepsi yang dibawa sebagai pengeta-huan. Demikian juga setiap
peserta didik dapat memiliki konsepsi yang berbeda-beda terhadap suatu konsep.
Setiap peserta didik senantiasa aktif membangun struktur kognitifnya
berdasarkan pemilihan informasi yang tersedia sesuai dengan keinginannya.
Ketika mereka berusaha membangun struktur kognitif dengan memilih informasi
yang ada, baik informasi dari guru, buku atau lingkungan, kemungkinan ada kesalahan
dalam mengaitkan keduanya. Prakonsepsi dan konsepsi yang benar dapat menjadi
salah ketika ia membangun struktur kognitif baru berdasarkan masukan informasi
yang salah, atau sebaliknya. Semuanya itu dapat menjadi penyebab terjadinya
miskonsepsi pada diri peserta didik.
Miskonsepsi
merupakan suatu keadaan yang dapat dialami oleh setiap peserta didik, namun
bukan berarti dibiarkan begitu saja terjadi. Oleh karena itu,hal ini tentu-nya memberikan kontribusi positif
pada peningkatan kualitas pembelajaran kimia dalam meningkatkan hasil belajar
kimia peserta didik. Peserta didik SMA merupakan calon-calon ilmuwan masa
depan, sehingga pemahaman konsep yang benar akan berdampak pula pada
pengembangan ilmu kimia yang lebih luas. Misalnya,
guru sering membuat analogi bahwa konsep kesetimbangan mirip dengan konsep air
dalam dua bejana yang berhubungan. Pada kasus ini, tinggi permukaan air dalam
bejana masing-masing dianalogikan dengan konsentrasi reaktan dan produk. Alasan
berikutnya adalah suatu konsep sangat sulit dipahami sehingga dapat menimbulkan
interpretasi lain bagi siswa. Pada materi kimia ikatan kimia sering
terjadi miskonsepsi pada saat proses belajar mengajar,dimana guru belum
memahami materi dengan 100% sehingga
siswa didalam kelas kurang memahami apa itu ikatan kimia. Dan guru pun kurang
menganalogikan materi dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil dari
identifikasi terhadap materi ikatan kimia dapat diuraikan sebagai berikut:
v Pengertian ikatan kimia,ikatan kimia merupakan
ikatan yang terjadi antara atom-atom yang membentuk suatu molekul.
Atom-atom unsur yang berikatan berasal
dari sejenis maupun tidak sejenis. Miskonsepsi yang terjadi siswa hanya dapat
menghafal dari pengertian ikatan kimia tanpa bisa menganalogikan dengan
kehidupan sehari-hari.
v Kestabilan unsur,miskonsepsi untuk sub ini
siswa hanya mengingat jika unsur stabil berarti unsur memiliki kulit terluarnya
terisi penuh oleh elektron,tanpa bisa menganalogikan bagaimana sebenarnya
elektron yang stabil pada ikatan kimia
dan pemahaman terhadap struktur lewis yang hanya melihat bentuknya.
v Membedakan ketiga ikatan kimia yaitu ikatan
kimia ion (ikatan yang terjadi akibat serah terima elektron sehingga adanya ion
positif + dan ion negatif -),ikatan kovalen (ikatan yang terbentuk akibat
adanya pemakaian bersama pasangan elektron),dan ikatan koordinasi. Miskonsepsi
yang terjadi antara jenis-jenis ikatan ini adalah siswa hanya mengingat saja
tanpa tahu bagaimana membedakannya dan memahami konsep dari jenis ikatan ini.
Dan guru pun kurang dalam menganalogikan kedalam kehidupan sehari-hari,serta
kurangnya memberikan motivasi siswa dalam belajar.
Konsep-konsep kimia yang diajarkan guru tidak
selalu dapat diterima secara utuh oleh peserta didik seperti yang diharapkan.
Setiap peserta didik mengonstruksi konsepnya sendiri-sendiri, sehingga
perbedaan konstruksi konsep individu inilah yang menyebabkan tingkat pemahaman
konsep mereka berbeda-beda pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi miskonsepsi pada pembelajaran kimia
dapat disebabkan sebagai berikut :
1.
Miskonsepsi Bersumber
dari Peserta Didik
Filsafat
konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan itu dikonstruksi oleh peserta
didik sendiri ketika berhubungan dengan lingkungan, tantangan, dan bahan yang
dipelajari (Paul Suparno, 1997: 33). Oleh karena peserta didik mengonstruksi
sendiri pengetahuannya, maka sangat mungkin terjadi salah konstruksi yang
disebabkan mereka belum memiliki bekal cukup yang berkaitan dengan konsep yang
sedang dikonstruksi atau belum memiliki kerangka ilmiah yang dapat digunakan
sebagai acuan dalam mengonstruksi pengetahuan yang benar.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan miskonsepsi
yang berasal dari peserta didik antara lain (1) prakonsepsi atau konsep awal
peserta didik; (2) pemikiran asosiatif peserta didik; (3) pemikiran humanistik;
(4) penalaran (reasoning) yang tidak
lengkap atau salah; (5) intuisi yang salah; (6) tahap perkembangan
kognitif peserta didik; (7) kemampuan peserta didik; dan (8) minat belajar.
2. Miskonsepsi Bersumber
dari Guru
Komunikasi
verbal yang terjadi ketika seorang guru menerapkan metode ceramah dalam proses
pembelajaran, memiliki kelemahan bahwa peserta didik tidak dapat secara
keseluruhan menangkap materi yang disampaikan guru. Hal ini karena komunikasi
verbal memiliki banyak kelemahan, diantaranya persepsi guru dengan peserta
didik yang berbeda karena masing-masing memiliki dunia dan bahasa yang berbeda,
pengalaman dan pengetahuan yang berbeda pula (Carter, dkk, 1989: 224).
Hasil penelitian yang dilakukan Garrett &
Jimenez (1994: 199) menunjukkan salah satu penyebab peserta didik sulit
menangkap pelajaran, yaitu disebabkan bahasa yang digunakan guru dalam mengajar
membingungkan, sehingga peserta didik kesulitan menghubungkan antar konsep yang
diterimanya.
Penyebab khusus yang mungkin menjadikan peserta
didik mengalami miskonsepsi yang bersumber dari guru menurut Paul Suparno
(2005: 53) adalah:
a.
Guru tidak menguasai
bahan/materi secara baik, utuh, dan benar (tidak memiliki kompetensi
profesional dan pedagogik);
b.
Guru tidak berlatar
belakang sarjana bidang ilmu yang diajarkan, misal sarjana pendidikan
matematika tetapi mengajar kimia;
c.
Jarang melakukan aktivitas
pembelajaran yang memberikan kesempatan peserta didik mengemukakan gagasan/ide,
sehingga tidak dapat mendeteksi terjadinya miskonsepsi secara dini; dan
d.
Hubungan guru dengan peserta
didik tidak terjalin baik, sehingga ketika peserta
didik mengalami kesulitan dalam pemahaman suatu konsep tidak berani bertanya.
3.
Miskonsepsi Bersumber dari Buku Teks Pelajaran
Buku teks pelajaran
merupakan sumber belajar bagi peserta didik yang bersifat pasif, artinya
peserta didik hanya berkomunikasi dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar
dalam buku tersebut dan tidak dapat bertanya langsung jika ada kalimat yang
kurang jelas dan tidak dipahami. Semua kalimat dalam buku dicoba dipahami
sendiri oleh peserta didik, sehingga kadang-kadang pemaksaan pemahaman ini
dapat berakibat terjadinya miskon-sepsi.
Beberapa penelitian
menunjukkan adanya miskonsepsi yang disebabkan dari buku teks pelajaran yang
dibaca oleh peserta didik (Abraham, 1992: 110). Penelitian
yang dilakukan Garnett & Treagust (1992: 1090) menunjukkan miskonsepsi peserta didik terhadap materi elektrokimia
disebabkan oleh buku teks yang digunakan dalam belajar. Penelitian serupa
dilakukan George (1989: 17) yang menyatakan sebagian besar miskonsepsi yang
dimiliki peserta didik bersumber pada buku yang digunakan.
Ilustrasi gambar yang disertakan dalam buku teks
pelajaran sangat memungkinkan munculnya miskonsepsi, karena gambar merupakan
wujud konkrit yang mudah ditangkap dan dipahami peserta didik Oleh karena itu
ilustrasi dari suatu konsep sangat penting diperhatikan guru agar ketika
dijumpai ilustrasi gambar yang salah segera dapat diluruskan, sehingga
miskonsepsipun dapat dihindarkan.
Menurut Paul Suparno (2005: 53), penyebab khusus
terjadinya miskon-sepsi yang bersumber dari buku teks diantaranya:
a. penjelasan yang keliru
dalam buku tersebut;
b. kesalahan penulisan yang
tidak disertai ralat (dalam ilmu kimia kesalahan penulisan rumus sangat
berakibat fatal);
c. penggunaan bahasa yang
terlalu tinggi untuk level peserta didik yang dituju;
d. banyak peserta didik yang
membaca buku teks sepotong-sepotong (tidak utuh) sehingga memberikan pemahaman
yang kurang tepat/benar;
e. pemberian ilustrasi yang
diambil dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sesuai dengan makna konsep yang
sesungguhnya; dan
f.
penggunaan gambar kartun yang sering mengandung
miskonsepsi.
4. Miskonsepsi Bersumber
dari Konteks
Menurut
Carter & Brikhouse (1989: 224), konteks materi pelajaran dapat dipahami
secara berbeda oleh peserta didik dan guru. Hal ini disebabkan oleh perbedaan
pengalaman, pengetahuan, tujuan, keperluan, dan motivasi. Oleh karena itu untuk
memahami kesulitan peserta didik, guru terlebih dahulu harus memahami bahwa
persepsi yang dimiliki peserta didik sering tidak sama dengan persepsi guru,
karena peserta didik memiliki dunia dan bahasa yang berbeda. Beberapa hal yang
dapat menyebabkan miskonsepsi yang berasal dari konteks antara lain (1)
pengalaman; (2) bahasa sehari-hari; (3) teman; dan (4) agama.
5. Miskonsepsi Bersumber
dari Metode Mengajar
Secara khusus cara mengajar guru yang
diwujudkan dalam bentuk metode pembela-jaran dapat menimbulkan miskonsepsi jika
guru (1) hanya menggunakan metode ceramah dan menulis tanpa berusaha mencari
umpan balik dikuasai atau belumnya materi yang disampaikan; (2) tidak
menjelaskan penurunan rumus dari konsep awalnya, sehingga peserta didik hanya
menghafal dan tidak adaptif terhadap penerapan rumus dalam perhitungan dengan berbagai
situasi; (3) tidak menyampaikan terjadinya miskonsepsi yang dialami sebagian
peserta didik, sehingga peserta didik yang tidak terdeteksipun kemungkinan akan
mengalami miskonsepsi; (4) tidak memberikan simpulan akhir setelah menerapkan
metode tanya jawab, diskusi, maupun resitasi (penugasan); (5) memberikan
analogi yang salah pada saat ceramah, (6) tidak mengujicoba terlebih dahulu
demonstrasi yang akan dilakukan; dan (7) tidak menjelaskan adanya penyimpangan
gejala atau reaksi kimia.
|
Berdasarkan uraian diatas, dapat saya pahami bahwa miskonsepsi merupakan suatu masalah dalam pembelajaran kimia. Kita sebagai guru/calon guru harus dapat mengatasi atau setidaknya dapat mengurangi agar miskonsepsi siswa terhadap materi pelajaran khususnya ikatan kimia itu berkurang. Mungkin dengan cara Guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang konsep yang biasanya membuat siswa bingung dan siswa diminta menjawab sejara jujur. Guru mengajak siswa untuk berdiskusi tentang bahan tertentu yang biasanya mengandung miskonsepsi, dan guru membiarkan siswa berdiskusi dengan bebas. Selain itu juga metode belajar yang digunakan harus sesuai dengan materi itu sendiri.
BalasHapusItu menurut saya.
Menurut saya miskonsepsi bisa bersumber dari peserta didik dan guru.Guru kimia sebagai pelaku utama harus mengintropeksi pengetahuan kimianya, membandingkan dengan beberapa sumber, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, guru harus mempersiapkan sajian penjelasan sebelum masuk ke kelas agar mengurangi miskonsepsi yang dialami siswa akibat pengalamannya yang minim akan ruang lingkup kimia.
BalasHapusKesalahan pada pengetahuan dasar ini akan berkelanjutan ketika peserta didik ingin mempelajari konsep yang lebih kompleks. Untuk meminimalisir miskonsepsi karena hal ini , penting untuk peserta didik menginterpretasikan pelajaran kimia dari berbagai sumber belajar yang dipelajarinya.Misalnya setelah peserta didik mendapatkan konsep tentang ikatan kimia ada baiknya siswa mencari tahu dari buku dan internet sehingga peserta didik dapat mengkonstruktivis konsep ikatan kimia dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.
Dari penjelasan anda,metode belajar ceramah menjadi salah satu penyebab miskonsepsi.Nah seandainya kita sebagai guru dan kita ingin menggunakan metode ceramah ,bagaimana cara kita sebagai guru dapat mengatasi dan mencegah terjadinya miskonsepsi di dalam pembelajaran dengan cara kita yang menggunakan metode ceramah ?
BalasHapusterima kasih untuk saudara ice atas pertanyaannya. Menurut saya metode ceramah dapat diatasi dengan cara seorang guru harus mampu bersifat inovatif terhadap pelajaran yang menyenangkan atau tidak membosannkan ,dimana guru itu harus mampu menguasai materi dengan baik agar mudah dipahami serta mengaitkan materi terhadap lingkungan. metode ceramah berpusat kepada guru,guru harus mampu memberikan informasi dengan baik serta memanfaatkan lingkungan agar tidak terjadi miskonsepsi dalam belajar. #skian terima kasih
BalasHapus